Tampilkan postingan dengan label Adab Dan Prilaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab Dan Prilaku. Tampilkan semua postingan

3.09.2012

Berita Dan Bahayanya

BERITA DAN BAHAYANYA
Oleh :DR Abdul Azhim Al Badawi

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar desas-desus yang tidak jelas asal-usulnya. Kadang dari suatu peristiwa kecil, tetapi dalam pemberitaannya, peristiwa itu begitu besar atau sebaliknya. Terkadang juga berita itu menyangkut kehormatan seorang muslim. Bahkan tidak jarang, sebuah rumah tangga menjadi retak, hanya karena sebuah berita yang belum tentu benar. Bagaimanakah sikap kita terhadap berita yang bersumber dari orang yang belum kita ketahui kejujurannya?

Dalam naskah berikut ini, penulis menjelaskan kepada kita, bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap berita-berita yang belum jelas kebenarannya itu. Allah berfirman, ﺎَﻬُّﻳَﺃﺎَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺍَﺀ ﻥِﺇ ْﻢُﻛَﺀﺂَﺟ ُُﻖِﺳﺎَﻓ ٍﺈَﺒَﻨِﺑ ﺍﻮُﻨَّﻴَﺒَﺘَﻓ ﻥَﺃ ﺍﻮُﺒﻴِﺼُﺗ ﺎًﻣْﻮَﻗ ٍﺔَﻟﺎَﻬَﺠِﺑ ﺍﻮُﺤِﺒْﺼُﺘَﻓ ﻰَﻠَﻋ ْﻢُﺘْﻠَﻌَﻓﺎَﻣ
َﻦﻴِﻣِﺩﺎَﻧ "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". [Al Hujurat : 6].

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta. (Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian. Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.
Allah berfirman, ﺎَﻬُّﻳَﺃﺎَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺍَﺀ ﻥِﺇ
ﺍﻮُﻨَّﻴَﺒَﺘَﻓ ٍﺈَﺒَﻨِﺑ ُُﻖِﺳﺎَﻓ ْﻢُﻛَﺀﺂَﺟ "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti" Maksudnya, janganlah kalian menerima (begitu saja) berita dari orang fasik, sampai kalian mengadakan pemeriksaan, penelitian dan mendapatkan bukti kebenaran berita itu. (Dalam ayat ini) Allah memberitahukan, bahwa orang- orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) dia dusta,
akan tetapi kadang ia juga benar. Karenanya, berita yang disampaikan tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah diteliti. Jika benar sesuai dengan bukti, maka diterima dan jika tidak, maka ditolak. Kemudian Allah menyebutkan illat (sebab) perintah untuk meneliti dan larangan untuk mengikuti berita- berita tersebut.

Allah berfirman. ٍﺔَﻟﺎَﻬَﺠِﺑ ﺎًﻣْﻮَﻗ ﺍﻮُﺒﻴِﺼُﺗ ﻥَﺃ "Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya". Kemudian nampak bagi kamu kesalahanmu dan kebersihan mereka. ﺍﻮُﺤِﺒْﺼُﺘَﻓ ﻰَﻠَﻋ ْﻢُﺘْﻠَﻌَﻓﺎَﻣ
َﻦﻴِﻣِﺩﺎَﻧ "Yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" [Al Hujurat : 6]

Terutama jika berita tersebut bisa menyebabkan punggungmu terkena cambuk. Misalnya, jika masalah yang kalian bicarakan bisa mengkibatkan hukum had, seperti qadzaf (menuduh) dan yang sejenisnya. Sungguh, betapa semua kaum muslimin memerlukan ayat ini, untuk mereka baca, renungi, lalu beradab dengan adab yang ada padanya.

Betapa banyak fitnah yang terjadi akibat berita bohong yang disebarkan orang fasiq yang jahat! Betapa banyak darah yang tertumpah, jiwa yang terbunuh, harta yang terampas, kehormatan yang terkoyakkan, akibat berita yang tidak benar!Berita yang dibuat oleh para musuh Islam dan musuh umat ini.

Dengan berita itu, mereka hendak menghancurkan persatuan umat ini, mencabik- cabiknya dan mengobarkan api permusuhan diantara umat Islam.

Betapa banyak dua saudara berpisah disebabkan berita bohong! Betapa banyak suami-istri berpisah karena berita yang tidak benar! Betapa banyak kabilah- kabilah, dan kelompok-kelompok saling memerangi, karena terpicu berita bohong! Allah Azza wa Jalla Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui, telah meletakkan satu kaidah bagi umat ini untuk memelihara mereka dari perpecahan, dan membentengi mereka dari pertikaian, juga untuk memelihara mereka dari api fitnah. Akan tetapi sangat disayangkan, tidak ada satu pun masyarakat muslim yang bebas dari orang-orang munafiq yang memendam kedengkian.

Mereka tidak senang melihat kaum muslimin menjadi masyarakat yang bersatu dan bersaudara, dimana orang yang paling rendah diantara mereka dijamin bisa berusaha dengan aman, dan apabila orang akar rumput itu mengeluh, maka orang yang di tampuk kepemimpinan juga akan mengeluh.

Wajib atas kaum muslimin untuk waspada dan mewaspadai musuh-musuh mereka. Dan hendaklah kaum muslimin mengetahui, bahwa para musuh mereka tidak pernah tidur (tidak pernah berhenti) membuat rencana dan tipu daya terhadap kaum muslimin. Maka wajiblah atas mereka untuk senantiasa waspada, sehingga bisa mengetahui sumber kebencian, dan bagaimana rasa saling bermusuhan dikobarkan oleh para musuh.

Sesungguhnya keberadaan orang-orang munafiq di tengah kaum muslimin dapat menimbulkan bahaya yang sangat besar.

Akan tetapi yang lebih berbahaya, ialah keberadaan orang-orang mukmin berhati baik yang selalu menerima berita yang dibawakan orang- orang munafiq. Mereka membuka telinga lebar-lebar mendengarkan semua ucapan orang munafiq, lalu mereka berkata dan bertindak sesuai berita itu.

Mereka tidak peduli dengan bencana yang ditimpakan kepada kaum muslimin akibat mengekor orang munafiq. Al Qur’an telah mencatatkan buat kita satu bencana yang pernah menimpa kaum muslimin, akibat dari sebagian kaum muslimin yang mengekor kepada orang-orang munafiq yang dengki, sehingga bisa mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang sebelum kita. Kalau kalian mau, bacalah Surat An Nur dan renungilah ayat-ayat penuh barakah yang Allah ucapkan tentang kebersihan Ummul Mukminin ‘Aisyah x dari tuduhan kaum munafiq.

Kemudian sebagian kaum muslimin yang jujur ikut-ikutan menuduh tanpa meneliti bukti- buktinya. Allah berfirman. َّﻥِﺇ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻭُﺀﺂَﺟ ِﻚْﻓِﻹْﺎِﺑ ٌﺔَﺒْﺼُﻋ ْﻢُﻜﻨِّﻣ ُﻩﻮُﺒَﺴْﺤَﺗَﻻ ﺍًّﺮَﺷ ﻢُﻜَّﻟ ْﻞَﺑ َﻮُﻫ ٌﺮْﻴَﺧ ْﻢُﻜَّﻟ ِّﻞُﻜِﻟ ٍﺉِﺮْﻣﺍ ﻢُﻬْﻨِّﻣ َﺐَﺴَﺘْﻛﺍﺎَّﻣ َﻦِﻣ ِﻢْﺛِﻹْﺍ ﻱِﺬَّﻟﺍَﻭ ﻰَّﻟَﻮَﺗ ُﻩَﺮْﺒِﻛ
ٌﻢﻴِﻈَﻋ ٌﺏﺍَﺬَﻋ ُﻪَﻟ ْﻢُﻬْﻨِﻣ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki adalah dari golongan kamu juga.Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar". [An Nur : 11].

Ifki maksudnya ialah berita bohong. Dan ini merupakan kebohongan yang paling jelek. ُﻩﻮُﺒَﺴْﺤَﺗَﻻ ﻢُﻜَّﻟ ﺍًّﺮَﺷ ٌﺮْﻴَﺧ َﻮُﻫ ْﻞَﺑ
ْﻢُﻜَّﻟ "Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu". [An Nur : 11].

Tidak semua perkara-perkara itu bisa dinilai hanya dengan zhahirnya saja. Karena terkadang kebaikan atau nikmat itu datang dalam satu bentuk yang kelihatannya menyusahkan. Diantara kebaikan (yang dijanjikan Allah buat keluarga Abu Bakar), ialah Allah menyebut mereka di malail a’la.

Dan Allah menurunkan beberapa ayat yang bisa dibaca mengenai keadaan kalian (keluarga Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu).

Dengan turunnya ayat ini, maka hilanglah mendung dan tersingkaplah kegelapan itu. Lenyap sudah gunung
kepedihan yang bertengger dalam kalbu Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha, suaminya, yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan bapaknya.

Sebagaimana juga hilangnya kepedihan sang penuduh, yaitu seorang shahabat yang jujur Shafwan bin Mu’atthil. Kemudian ayat selanjutnya mengajarkan kepada kaum mukminin, bagaimana menyikapi berita. Allah berfirman. ﻵْﻮَّﻟ ْﺫِﺇ ُﻩﻮُﻤُﺘْﻌِﻤَﺳ َّﻦَﻇ َﻥﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ُﺕﺎَﻨِﻣْﻮُﻤْﻟﺍَﻭ ْﻢِﻬِﺴُﻔﻧَﺄِﺑ ﺍًﺮْﻴَﺧ ﺍﻮُﻟﺎَﻗَﻭ ﺁَﺬَﻫ
ٌﻦﻴِﺒُّﻣ ٌﻚْﻓِﺇ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:"Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." [An Nur : 12].

Wahai kaum msulimin, inilah langkah pertama yang harus engkau lakukan, jika ada berita buruk tentang saudaramu, yaitu berhusnuhan (berperasangka baik) kepada dirimu.

Jika engkau sudah husnuzhan kepada dirimu, maka selanjutnya kamu wajib husnuzhan kepada saudaramu dan (meyakini) kebersihannya dari cela yang disampaikan. Dan engkau katakan, ٌﻢﻴِﻈَﻋ ٌﻥﺎَﺘْﻬُﺑ ﺍَﺬَﻫ َﻚَﻧﺎَﺤْﺒُﺳ "Maha Suci Engkau (Allah) , ini merupakan kedustaan yang besar". [An Nur : 16].

Inilah yang dilakukan oleh sebagian shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika sampai berita kepada mereka tentang Ummul Mukminin.

Diceritakan dari Abu Ayyub, bahwa istrinya berkata,“Wahai Abu Ayyub, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan banyak orang tentang Aisyah?” Abu Ayyub menjawab,“Ya. Itu adalah berita bohong. Apakah engkau melakukan perbuatan itu (zina), hai Ummu Ayyub? Ummu Ayyub menjawab,“Tidak. Demi Allah, saya tidak melakukan perbuatan itu.” Abu Ayyub berkata,“Demi Allah, A’isyah itu lebih baik dibanding kamu.”

Kemudian Allah berfirman. َﻻْﻮَّﻟ ِﻪْﻴَﻠَﻋﻭُﺀﺂَﺟ ِﺔَﻌَﺑْﺭَﺄِﺑ َﺀﺁَﺪَﻬُﺷ ْﺫِﺈَﻓ ْﻢَﻟ ﺍﻮُﺗْﺄَﻳ ِﺀﺁَﺪَﻬُّﺸﻟﺎِﺑ َﻚِﺌَﻟْﻭُﺄَﻓ َﺪﻨِﻋ
َﻥﻮُﺑِﺫﺎَﻜْﻟﺍ ُﻢُﻫ ِﻪﻠﻟﺍ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu. Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi- saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta". [An Nur : 13]. Inilah langkah yang kedua, jika ada berita tentang saudaranya. Langkah pertama, mencari dalil yang bersifat bathin, maksudnya berhusnuzhan kepada saudaranya. Langkah kedua mencari bukti nyata. ﺎَﻬُّﻳَﺃﺎَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺍَﺀ ﻥِﺇ
ﺍﻮُﻨَّﻴَﺒَﺘَﻓ ٍﺈَﺒَﻨِﺑ ُُﻖِﺳﺎَﻓ ْﻢُﻛَﺀﺂَﺟ "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti". [Al Hujurat : 6].

Maksudnya mintalah bukti kebenaran suatu berita dari si pembawa berita. Jika ia bisa mendatangkan buktinya, maka terimalah. Jika ia tidak bisa membuktikan, maka tolaklah berita itu di depannya; karena ia seorang pendusta. Dan cegahlah masyarakat agar tidak menyampaikan berita bohong yang tidak ada dasarnya sama sekali.

Dengan demikian, berita itu akan mati dan terkubur di dalam dada pembawanya ketika kehilangan orang-orang yang mau mengambil dan menerimanya. Seperti inilah Al Qur’an mendidik umatnya.

Namun sangat disayangkan, banyak kaum muslimin yang tidak konsisten dengan pendidikan ini. Sehingga jika ada seorang munafik yang menyebarkan berita bohong, maka berita itu akan segera tersebar di masyarakat dan diucapkan oleh banyak lidah, tanpa mengecek dan meniliti kebenarannya.

Dalam hal ini Allah berfirman. ْﺫِﺇ ُﻪَﻧْﻮَّﻘَﻠَﺗ ْﻢُﻜِﺘَﻨِﺴْﻟَﺄِﺑ
ﻢُﻜِﻫﺍَﻮْﻓَﺄِﺑ َﻥﻮُﻟﻮُﻘَﺗَﻭ ٌ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut".[An Nur : 15].

Pada dasarnya ucapan itu diterima dengan telinga, bukan dengan lisan. Akan tetapi Allah ungkapkan tentang cepatnya berita itu tersebar di tengah masyarakat. Seakan-akan kata-kata itu keluar dari mulut ke mulut tanpa melalui telinga, dilanjutkan ke hati yang memikirkan apa yang didengar, selanjutnya memutuskan boleh atau tidak berita itu disebar luaskan. َﻥﻮُﻟﻮُﻘَﺗَﻭ ﻢُﻜِﻫﺍَﻮْﻓَﺄِﺑ َﺲْﻴَﻟﺎَّﻣ ﻢُﻜَﻟ ِﻪِﺑ ٌﻢْﻠِﻋ ُﻪَﻧﻮُﺒَﺴْﺤَﺗَﻭ ﺎًﻨِّﻴَﻫ
ٌﻢﻴِﻈَﻋ ِﻪﻠﻟﺍ َﺪﻨِﻋ َﻮُﻫَﻭ "Kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.Padahal dia pada sisi Allah adalah besar". [An Nur : 15].

Allah mendidik kaum mukminin dengan adab ini. Mengajarkan kepada mereka cara menghadapi berita serta cara memberantasnya, sehingga tidak tersebar di masyarakat. Setelah itu Allah mengingatkan kaum mukminin, agar tidak membicarakan sesuatu yang tidak mereka diketahui. Allah juga mengingatkan mereka, agar tidak mengekor kepada para pendusta penebar berita bohong.

Allah berfirman. ُﻢُﻜُﻈِﻌَﻳ ُﻪﻠﻟﺍ ﻥَﺃ ﺍﻭُﺩﻮُﻌَﺗ ِﻪِﻠْﺜِﻤِﻟ ﺍًﺪَﺑَﺃ ﻥِﺇ ﻢُﺘﻨُﻛ
َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُّﻣ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman". [An Nur : 17].

Kemudian Allah menjelaskan, mengekor kepada para pendusta memiliki arti mengikuti langkah-langkah syetan. Allah berfirman. ﺎَﻬُّﻳَﺃﺎَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺍَﺀ ﺍﻮُﻌِﺒَّﺘَﺗَﻻ ِﺕﺍَﻮُﻄُﺧ ِﻥﺎَﻄْﻴَّﺸﻟﺍ ﻦَﻣَﻭ ْﻊِﺒَّﺘَﻳ ِﺕﺍَﻮُﻄُﺧ ِﻥﺎَﻄْﻴَّﺸﻟﺍ ُﻪَّﻧِﺈَﻓ ُﺮُﻣْﺄَﻳ ِﺀﺂَﺸْﺤَﻔْﻟﺎِﺑ ِﺮَﻜﻨُﻤْﻟﺍَﻭ َﻻْﻮَﻟَﻭ ُﻞْﻀَﻓ ِﻪﻠﻟﺍ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ُﻪُﺘَﻤْﺣَﺭَﻭ ﻰَﻛَﺯﺎَﻣ ﻢُﻜﻨِﻣ ْﻦِّﻣ ٍﺪَﺣَﺃ ﺍًﺪَﺑَﺃ َّﻦِﻜَﻟَﻭ َﻪﻠﻟﺍ ﻲِّﻛَﺰُﻳ ﻦَﻣ ُﺀﺂَﺸَﻳ ُﻪﻠﻟﺍَﻭ ٌﻊﻴِﻤَﺳ
ُُﻢﻴِﻠَﻋ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar". [An Nur : 21]. Dalam ayat selanjutnya Allah menerangkan, lisan dan semua anggota badan lainnya akan memberikan kesaksian atas seorang hamba pada hari kiamat.

Allah berfirman. َّﻥِﺇ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﻥﻮُﻣْﺮَﻳ ِﺕﺎَﻨَﺼْﺤُﻤْﻟﺍ ِﺕَﻼِﻓﺎَﻐْﻟﺍ ِﺕﺎَﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ﺍﻮُﻨِﻌُﻟ ﻲِﻓ ﺎَﻴْﻧُّﺪﻟﺍ ِﺓَﺮِﺧَﻷْﺍَﻭ ْﻢُﻬَﻟَﻭ ٌﺏﺍَﺬَﻋ ٌﻢﻴِﻈَﻋ . َﻡْﻮَﻳ ُﺪَﻬْﺸَﺗ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ ْﻢُﻬُﺘَﻨِﺴْﻟَﺃ ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺃَﻭ ْﻢُﻬُﻠُﺟْﺭَﺃَﻭ ﺎَﻤِﺑ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ َﻥﻮُﻠَﻤْﻌَﻳ . ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ُﻢِﻬﻴِّﻓَﻮُﻳ ُﻪﻠﻟﺍ ُﻢُﻬَﻨﻳِﺩ َّﻖَﺤْﻟﺍ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳَﻭ
ُﻦﻴِﺒُﻤْﻟﺍ ُّﻖَﺤْﻟﺍ َﻮُﻫ َﻪﻠﻟﺍ َّﻥَﺃ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita- wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka adzab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Pada hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka, bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)". [An Nur 23-25].

Wahai para penebar desas-desus! Wahai para pembuat kedustaan! Hai orang yang tidak senang melihat orang mukmin saling mencintai sehingga dipisahkan! Hai orang yang tidak suka melihat kaum mukmin aman! Hai
para pencari aib orang yang baik! Tahanlah lidahmu, karena sesungguhnya kamu akan diminta pertanggungjawaban kata-kata yang engkau ucapkan.

Allah berfirman. ُﻆِﻔْﻠَﻳﺎَّﻣ ﻦِﻣ ٍﻝْﻮَﻗ َّﻻِﺇ ِﻪْﻳَﺪَﻟ
ٌﺪﻴِﺘَﻋ ٌﺐﻴِﻗَﺭ "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir". [Qaf : 18].

Tahanlah lidahmu! Jauhilah perbuatan bohong dan janganlah menebarkan desas-desus! Janganlah menuduh kaum muslimin tanpa bukti, dan janganlah berburuk sangka kepada mereka! Seakan-akan aku dengan engkau, wahai saudaraku, berada pada hari kiamat; hari kerugian dan hari penyesalan. Sementara para seterumu merebutmu. Yang ini mengatakan “engkau telah menzhalimiku”, yang lain mengatakan “engkau telah menfitnahku”, yang lain lagi mengatakan, “engkau telah melecehkanku”, yang lain mengatakan “engkau telah menggunjingku”. Sementara engkau tidak mampu menghadapi mereka. Engkau mengharap kepada Rabb- mu agar menyelamatkanmu dari mereka, namun tiba- tiba engkau mendengar. َﻡْﻮَﻴْﻟﺍ ﻱَﺰْﺠُﺗ ُّﻞُﻛ ٍﺲْﻔَﻧ ﺎَﻤِﺑ ْﺖَﺒَﺴَﻛ َﻢْﻠُﻇَﻻ َﻡْﻮَﻴْﻟﺍ َّﻥِﺇ َﻪﻠﻟﺍ
ِﺏﺎَﺴِﺤْﻟﺍ ُﻊﻳِﺮَﺳ "Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya". [Al Mukmin : 17]. Lalu engkaupun menjadi yakin dengan neraka. Engkau ingat firman Allah. َّﻦَﺒَﺴْﺤَﺗَﻻَﻭ َﻪﻠﻟﺍ ًﻼِﻓﺎَﻏ ﺎَّﻤَﻋ ُﻞَﻤْﻌَﻳ َﻥﻮُﻤِﻟﺎَّﻈﻟﺍ ﺎَﻤَّﻧِﺇ ْﻢُﻫُﺮِّﺧَﺆُﻳ ٍﻡْﻮَﻴِﻟ ُﺺَﺨْﺸَﺗ ِﻪﻴِﻓ
ُﺭﺎَﺼْﺑَﻷْﺍ "Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang- orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak" [Ibrahim : 42].

Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan. Dan semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya.

[Diterjemahkan dari majalah Al Ashalah, edisi 34 tahun ke VI]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VII/1424H/2003. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
Baca Selengkapnya...

Adab Meminta Izin

ADAB MEMINTA IZIN.
Oleh: Ummu Ihsan Choiriyah

Di tengah masyarakat sekarang ini, masih sering kita saksikan perbuatan salah yang dianggap lumrah. Atau perbuatan berbahaya yang dianggap biasa. Hal ini wajar, karena masih sangat sedikit dari mayoritas kaum muslimin orang yang benar-benar memahami tuntunan syari'at. Sedikit juga orang yang berkemauan keras untuk belajar dan mendalami agamanya.

Diantara kebiasaan yang kerap kita saksikan, yaitu seseorang memasuki rumah orang lain tanpa meminta izin si empunya rumah. Atau kita dapati seseorang mengintip ke dalam rumah orang lain karena si empunya tak menjawab salamnya.

Masih banyak kaum muslimin yang menganggap ini sebagai perbuatan sepele yang sah-sah saja. Apalagi bila si empunya rumah termasuk kerabat atau sahabat yang dekat dengannya. Mereka sama sekali tidak menyadari, bahwa perbuatan seperti itu merupakan perbuatan dosa yang dapat membawa mudharat yang sangat berbahaya. Rumah, pada hakikatnya adalah hijab bagi seseorang.

Di dalamnya seseorang biasa membuka aurat. Di sana juga terdapat perkara-perkara yang ia merasa malu bila orang lain melihatnya. Tidak dapat kita bayangkan, bagaimana bila akhirnya pandangan mata terjatuh pada perkara-perkara yang haram. Ditambah lagi tabiat manusia yang mudah curiga-mencurigai, berprasangka buruk satu sama lain. Akankah akibat-akibat buruk itu dapat terelakkan bila masing-masing pribadi jahil dan tak mengindahkan tuntunan agama? Syari'at Islam adalah syari'at yang universal.

Tidak ada satupun perkara yang membawa kemashlahatan bagi kehidupan manusia, kecuali Islam memerintahkannya. Dan tidak ada satu pun perkara yang dapat membawa mudharat bagi kehidupan manusia, kecuali Islam melarangnya. Tidak terkecuali dalam masalah adab meminta izin atau disebut isti'dzan. Islam telah memberikan tuntunan adab yang sangat agung dalam masalah ini. Berikut ini kami berusaha sedikit mengulasnya.

MEMINTA IZIN BERBEDA DENGAN UCAPAN SALAM

Sebagian orang beranggapan, bila salam telah dijawab, berarti ia boleh masuk ke dalam rumah tanpa harus meminta izin. Ini adalah anggapan yang jelas keliru. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ﺎَﻬُّﻳَﺃﺎَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺍَﺀ ﺍﻮُﻠُﺧْﺪَﺗَﻻ ﺎًﺗﻮُﻴُﺑ َﺮْﻴَﻏ ْﻢُﻜِﺗﻮُﻴُﺑ ﻰَّﺘَﺣ ﺍﻮُﺴِﻧْﺄَﺘْﺴَﺗ ﺍﻮُﻤِّﻠَﺴُﺗَﻭ ﻰَﻠَﻋ ﺎَﻬِﻠْﻫَﺃ ْﻢُﻜِﻟَﺫ
َﻥﻭُﺮَّﻛَﺬَﺗ ْﻢُﻜَّﻠَﻌَﻟ ْﻢُﻜَّﻟ ُُﺮْﻴَﺧ "Hai, orang orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat".[An Nur:27].

Ayat di atas dengan jelas membedakan antara salam dan meminta izin. Dengan demikian, seseorang yang telah dijawab salamnya, harus meminta izin sebelum masuk ke dalam rumah. Inilah adab yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Kaladah bin Al Hambal, bahwasanya Shafwan bin Umayyah mengutusnya pada hari penaklukan kota Makkah dengan membawa liba' [1], jadayah [2] dan dhaghabis [3]. Ketika itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di atas lembah. Aku menemui Beliau tanpa mengucapkan salam dan tanpa minta izin. Maka Beliau bersabda: " ْﻊِﺟْﺭِﺍ ْﻞُﻘَﻓ ُﻡَﻼَّﺴﻟﺍ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻞﺧﺩﺃﺃ" "Keluarlah, ucapkanlah salam dan katakan: “Bolehkah aku masuk?” [Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i]

HENDAKLAH BERDIRI DI SISI KIRI ATAU KANAN PINTU

Bagi orang yang meminta izin, hendaklah berdiri di sisi kanan atau kiri pintu. Dan janganlah ia berdiri tepat di depan pintu. Hal ini dimaksudkan agar pandangan mata tidak jatuh pada perkara-perkara yang tidak layak dipandang saat pintu terkuak. Terlebih lagi, jika pintu memang dalam keadaan terbuka. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Abdullah bin Bisyr, ia berkata: َﻥﺎَﻛ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﺍَﺫِﺇ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ٍﻡْﻮَﻗ َﺏﺎَﺑ ﻲَﺗَﺃ ْﻢَﻟ ِﻞِﺒْﻘَﺘْﺴَﻳ َﺏﺎَﺒﻟﺍ ْﻦِﻣ َﺀﺎَﻘْﻠِﺗ ِﻪِﻬْﺟَﻭ ْﻦِﻜَﻟَﻭ ْﻦِﻣ ِﻪِﻨْﻛُﺭ ِﻦَﻤْﻳَﻷﺍ ْﻭَﺃ ِﺮَﺴْﻳَﻷﺍ ُﻝْﻮُﻘَﻳَﻭ ُﻡَﻼَّﺴﻟﺍ"
ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ُﻡَﻼَّﺴﻟﺍ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ" "Apabila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi rumah orang, Beliau tidak berdiri di depan pintu, akan tetapi di samping kanan atau samping kiri, kemudian Beliau mengucapkan salam "assalamu 'alaikum, assalamu 'alaikum", karena saat itu rumah- rumah belum dilengkapi dengan tirai". [Hadist riwayat Abu Dawud].

Abu Dawud juga meriwayatkan dari Huzail, ia berkata: "Seorang lelaki –Utsman bin Abi Syaibah menyebutkan, lelaki ini adalah Sa'ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu 'anhu - datang lalu berdiri di depan pintu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meminta izin. Dia berdiri tepat di depan pintu. Utsman bin Abi Syaibah mengatakan: Berdiri menghadap pintu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya: " ﺍَﺬَﻜَﻫ َﻚْﻨَﻋ - ْﻭَﺃ ﺍَﺬَﻜَﻫ - ﺎَﻤَّﻧِﺈَﻓ ِﺮَﻈَّﻨﻟﺍ َﻦِﻣ ُﻥﺍَﺬْﺌِﺘْﺳِﻻﺍ" "Menyingkirlah dari depan pintu, sesungguhnya meminta izin disyari’atkan untuk menjaga pandangan mata".

BILA TIDAK DIIZINKAN HENDAKLAH IA KEMBALI

Dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ﻥِﺈَﻓ ﺍﻭُﺪِﺠَﺗ ْﻢَّﻟ َﻼَﻓ ﺍًﺪَﺣَﺃ ﺂَﻬﻴِﻓ ﺎَﻫﻮُﻠُﺧْﺪَﺗ ﻰَّﺘَﺣ َﻥَﺫْﺆُﻳ ْﻢُﻜَﻟ ﻥِﺇَﻭ َﻞﻴِﻗ ُﻢُﻜَﻟ ﺍﻮُﻌِﺟْﺭﺍ ﺍﻮُﻌِﺟْﺭﺎَﻓ َﻮُﻫ ﻰَﻛْﺯﺍ ْﻢُﻜَﻟ ُﻪﻠﻟﺍَﻭ ﺎَﻤِﺑ
ٌﻢﻴِﻠَﻋ َﻥﻮُﻠَﻤْﻌَﺗ "Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu "Kembali (saja)lah,” maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". [An Nur:28].

Apabila seseorang telah mengucapkan salam dan meminta izin sebanyak tiga kali, namun tidak juga dipersilakan, hendaklah ia kembali. Boleh jadi tuan rumah sedang enggan menerima tamu, atau ia sedang bepergian. Karena seorang tuan rumah mempunyai kebebasan antara mengizinkan atau menolak tamu. Demikianlah adab yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy'ari Radhiyallahu 'anhu, Beliau bersabda: " ﺍَﺫِﺇ َﻥَﺫَﺄَﺘْﺳﺍ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ﺎًﺛَﻼَﺛ ْﻑِﺮَﺼْﻨَﻴْﻠَﻓ ُﻪَﻟ ْﻥَﺫْﺆُﻳ ْﻢَﻠَﻓ" "Jika salah seorang dari kamu sudah meminta izin sebanyak tiga kali, namun tidak diberi izin, maka kembalilah". [Hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim].

LARANGAN MENGINTIP KE DALAM RUMAH ORANG LAIN

Sering kita jumpai orang-orang yang jahil tentang tuntunan syari'at, karena terdorong rasa ingin tahu, ia mengintip ke dalam rumah orang lain. Baik karena salam yang tak terjawab, atau hanya sekedar iseng. Mereka tidak menyadari, bahwa perbuatan seperti ini diancam keras oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Beliau bersabda: " ْﻮَﻟ َّﻥَﺃ ًﺃَﺮْﻣﺍ َﻊَﻠْﻃِﺍ َﻚْﻴَﻠَﻋ ِﺮْﻴَﻐِﺑ ٍﻥْﺫِﺇ ُﻪْﺘَﻓَﺬَﺨَﻓ ٍﺓﺎَﺼُﺤِﺑ ْﺕَﺄَﻘَﻔَﻓ ﺎَﻣ ُﻪُﻨْﻴَﻋ ْﻦِﻣ َﻚْﻴَﻠَﻋ َﻥﺎَﻛ
ٍﺡﺎَﻨُﺟ" "Sekiranya ada seseorang yang mengintip rumahmu tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu hingga tercungkil matanya, maka tiada dosa atasmu". [Hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim].

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Sahal bin Saad As Sa'idi Radhiyallahu 'anhu, ia mengabarkan bahwasanya seorang laki laki mengintip pada lubang pintu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu, Beliau tengah membawa sebuah sisir yang biasa Beliau gunakan untuk menggaruk kepalanya. Ketika melihatnya, Beliau bersabda:

"Seandainya aku tahu engkau tengah mengintipku, niscaya telah aku lukai kedua matamu dengan sisir ini". Beliau bersabda: "Sesungguhnya permintaan izin itu diperintahakan untuk menjaga pandangan mata." [Hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim].

Demikianlah beberapa perkara yang harus diperhatikan ketika hendak memasuki rumah orang lain, kecuali rumah-rumah yang tidak didiami oleh seorangpun, dan ia ada keperluan di dalamnya. Seperti rumah yang memang disediakan untuk para tamu, jika di awal ia telah diberi izin, maka cukuplah baginya.

Demikian juga tempat-tempat umum, seperti tempat-tempat jualan, penginapan dan lain sebagainya.

Kini muncul pertanyaan:
apakah kita juga harus meminta izin ketika hendak masuk menemui salah seorang anggota keluarga kita?
Berikut ini perinciannya:

SEORANG LAKI-LAKI HARUS MEMINTA IZIN KETIKA HENDAK MASUK MENEMUI IBUNYA

Seorang anak laki laki yang telah baligh, wajib meminta izin secara mutlak ketika hendak masuk menemui ibunya. Di dalam kitab Adabul Mufrad, Imam Al Bukhari menyebutkan sebuah riwayat dari Muslim bin Nadzir, bahwasanya ada seorang laki laki bertanya kepada Hudzaifah Ibnul Yaman: "Apakah saya harus meminta izin ketika hendak masuk menemui ibuku?" Maka ia menjawab: "Jika engkau tidak meminta izin, niscaya engkau akan melihat sesuatu yang tidak engkau sukai." [Hadits mauquf shahih].

Demikian juga riwayat dari Alqamah, ia berkata: Seorang laki laki datang kepada Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu dan berkata: "Apakah aku harus meminta jika hendak masuk menemui ibuku?" Maka ia menjawab: "Tidaklah dalam semua keadaannya ia suka engkau melihatnya." [Hadits mauquf shahih].

SEORANG LAKI-LAKI HARUS MEMINTA IZIN KETIKA HENDAK MENEMUI SAUDARA PEREMPUANNYA

Demikian juga seorang laki laki baligh, harus meminta izin ketika hendak masuk menemui saudara perempuannya. Di dalam kitab Al Adabul Mufrad, Imam Al Bukhari menyebutkan sebuah riwayat dari Atha'. Dia berkata, aku bertanya kepada Ibnu 'Abbas: "Apakah aku harus meminta izin jika hendak masuk menemui saudara perempuanku?" Dia menjawab,”Ya.” Aku mengulangi pertanyaanku: "Dua orang saudara perempuanku berada di bawah tanggunganku. Aku yang mengurus dan membiayai mereka. Haruskah aku meminta izin jika hendak masuk menemui mereka?" Maka dia menjawab,”Ya. Apakah engkau suka melihat mereka berdua dalam keadaan telanjang?" [Hadits mauquf shahih].

PERINTAH KEPADA ORANG TUA AGAR MENGAJARI ANAK- ANAK DAN PARA PELAYANNYA TENTANG KEHARUSAN MEMINTA IZIN PADA TIGA WAKTU

Di dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 58, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak- budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang- orang yang belum baligh diantara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan sesudah sesudah shalat Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".

Dalam ayat di atas Allah memerintahkan kaum mukminin, agar para pelayan yang mereka miliki dan anak-anak yang belum baligh meminta izin kepada mereka pada tiga waktu. Pertama : Sebelum shalat subuh, karena biasanya orang-orang pada waktu itu sedang nyenyak tidur di pembaringan mereka. Kedua : Ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari”, yaitu pada waktu tidur siang, karena pada saat itu orang-orang melepas pakaian mereka untuk bersantai bersama keluarga. Ketiga : Sesudah sesudah shalat Isya, karena saat itu adalah waktu tidur. Pelayan dan anak-anak diperintahkan agar tidak masuk menemui ahli bait pada waktu-waktu tersebut, karena dikhawatirkan seseorang sedang bersama isterinya, atau sedang melakukan hal-hal yang bersifat pribadi. Oleh sebab itu, Allah mengatakan: "Itulah tiga 'aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu", yakni jika mereka masuk pada waktu di luar tiga waktu tersebut, maka tiada dosa atas kamu bila membuka kesempatan buat mereka (untuk masuk), dan tiada dosa atas mereka bila melihat sesuatu di luar tiga waktu tersebut. Karena mereka telah diizinkan untuk masuk menemui kalian, karena mereka keluar masuk untuk melayani kamu atau untuk urusan lainnya. Para pelayan yang biasa keluar masuk diberi dispensasi yang tidak diberikan kepada selain mereka. Oleh karena itu, Imam Malik, Imam Ahmad dan penulis kitab Sunan meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang kucing: " ﺎَﻬَّﻧِﺇ ْﺖَﺴْﻴَﻟ ٍﺔَﺴَﺠَﻨِﺑ ﺎَﻬَّﻧِﺇ َﻦِﻣ َﻦْﻴِﻓﺍَّﻮَّﻄﻟﺍ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ْﻭَﺃ
ِﺕﺎَﻓﺍَّﻮَّﻄﻟﺍَﻭ" "Ia (kucing) tidaklah najis, karena ia selalu berkeliaran di sekitar kamu". Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin", yakni apabila anak-anak yang sebelumnya harus meminta izin pada tiga waktu yang telah disebutkan di atas. Apabila mereka telah mencapai usia baligh, mereka wajib meminta izin di setiap waktu, seperti halnya orang- orang dewasa dari putera seseorang, atau dari kalangan karib-kerabatnya wajib meminta izin. Al Auza'i meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, ia mengatakan: "Apabila seorang anak masih balita, ia harus meminta izin kepada kedua orang tuanya (bila ingin masuk menemui keduanya dalam kamar) pada tiga waktu tersebut. Apabila ia telah mencapai usia baligh ia harus meminta izin di setiap waktu." Demikianlah paparan singkat tentang perkara-perkara yang berkaitan dengan adab-adab isti'dzan. Mudah- mudahan dapat memambah pemahaman kita tentang ajaran Islam dalam membimbing umat manusia, guna memperoleh seluruh kemashlahatan dan menggapai kabahagiaan hidup di dunia dan di dunia dan akhirat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun VIII/1425/2004M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]
________
Footnote
[1]. Susu yang diperah saat unta baru saja melahirkan
[2]. Rusa yang baru berusia enam bulan
[3]. Buah semacam mentimun
Baca Selengkapnya...

2.17.2012

Adab Dan Akhlak Rosululloh

Adab Dan Akhlak Rosululloh Shollollohu 'Alaih Wasallam

Adab dan akhlak Rasulullah s.a.w. Sebagaimana yang diriwayatkan mengenai perilaku Rasulullah s.a.w., bahawa Baginda tidak pernah sama sekali memukulseorang pun dengantangannya, melainkan dipukulnya kerana fisabilillahi Ta’ala.
Baginda juga tidak pernah memeram dendam kerana sesuatu yang dilakukan ke atasnya dirinya sendiri, melainkan bila melihat kehormatan Allah dicabuli.

Jika Baginda diminta untuk memilih antara dua perkara tanpa ragu-ragu lagi Baginda akan memilih yang paling ringan dan mudah antara keduanya, kecuali jika pada perkara itu ada dosa, ataupun akan menyebabkan terputusnya perhubungan silaturrahim, maka Baginda akan menjadi orang yang paling jauh sekali daripadanya. Tiada pernah seseorang yang datang kepada Nabi s.a.w., baik ia merdeka atau hamba sahaya ataupun amah (hamba sahaya perempuan)mengadukankeperluannya, melainkan Baginda akan memenuhi hajat masing-masing. Berkata Anas r.a.: Demi Zat yang mengutusnya dengan kebenaran. Ia (Nabi) tiada pernah berkata padaku dalam perkara yang tiada diinginnya, mengapa engkau lakukan itu.

Dan apabila isteri-isteri memarahiku atau sesuatu yang aku lakukan, maka ia berkata kepada mereka: Biarkanlah si Anas itu, dan jangan dimarahi, sebenarnya tiap-tiap sesuatu itu berlaku menurut ketentuan dan kadar. Termasuk akhlaknya yang mulia, ialah memulakan memberi salam kepada sesiapa saja yang ditemuinya.

Jika ada orang yang mengasarinya kerana sesuatu keperluan, ia menyabarkannya sehingga orang itu memalingkan muka daripada baginda. Bila berjumpa dengan salah seorang sahabatnya, segera ia akan menghulurkan tangan untuk berjabat tangan. Baginda tidak pernah bangun atau duduk, melainkan lidahnya sentiasa menyebut nama Allah.

Seringkali bila sedang sembahyang, lalu ada tetamu yang datang kerana sesuatu keperluan, maka segeralah ia meringkaskan sembahyangnya untuk menyambut tetamu seraya bertanya kepadanya:

Apa hajat anda? Bila baginda berada di dalam sesuatu majlis antara para sahabatnya tidak pernah dikhususkan satu tempat baginya, melainkan di mana saja Baginda sampai, di situlah ia duduk.

Baginda selalu menghormati sesiapa saja yang mendatanginya, sehingga terkadang-kadang Baginda sampai menghamparkan bajunya supaya orang itu duduk di atasnya. Sering pula Baginda memberikan bantal sandaran kepada orang yang datang, supaya orang itu bersandar padanya. Bila di dalam suatu majlis yang ramai, Baginda menghadapkan wajahnya kepada semua orang, satu lepas satu, sehingga seolah-olah kesemua majlisnya pendengarannya percakapannya, kehalusan budi pekertinya dan perhatiannya ditumpukan kepada setiap orang yang duduk bersamanya di dalam majlis itu. Padahal majlis Rasulullah s.a.w. itu umumnya ialah majlis yang diliputi oleh kesopanan kerendahan diri dan amanah. Allah telah berfirman di dalam al-Quran al-Karim:

“Oleh kerana rahmat Tuhan engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, dan kiranya engkau berbudi kasar dan berhati bengis, nescaya mereka akan lari dari sekelilingmu.” (Ali-Imran: 159)

Baginda lebih suka memanggil para sahabatnya dengan nama gelaran masing-masing untuk menghormati mereka akan memikat hati mereka. Sesiapa yang tidak punya nama gelaran, Baginda memberinya nama gelaran, lalu ia pun dipanggil dengan gelaran itu. Bukan kaum lelaki saja yang diberi nama gelaran malah kaum wanita juga, sama ada pernah melahirkan anak mahupun yang tidak. Bahkan kepada anak-anak kecil pun demikian juga, sehingga hati anak-anak itu tertarik kepada peribadinya s.a.w.

Baginda Rasulullah s.a.w. adalah seorang yang amat jarang marahnya, tetapi jika marah paling segera redha pula. Baginda adalah orang yang berhati belas terhadap orang ramai, paling baik antara mereka sekalian, dan paling banyak memberikan manfaat kepada seluruh manusia. Tidak pernah sekalipun terdengar suara yang tinggi dalam semua majlis-
majlisnya. Apabila bangun dari majlisnya, Baginda sering membaca :

“Maha Suci engkau wahai Tuhanku dengan segala
kepujian bagiMu, aku menyaksikan bahawasanya tiada tuhan melainkan Engkau, aku memohon keampunan kepadaMu dan aku bertaubat kepadaMu.”

Di kutip dari: http://bimbinganmukmin.wordpress.com/2011/11/24/adab-dan-akhlak-rasulullah-s-a-w/
Baca Selengkapnya...

MASUK DENGAN AKAUN FACEBOOK

SOHABAT BLOGGER

iLmoe Mp3 Kajian

JUMLAH & LOKASI PENGUNJUNG

free countersLocations of Site Visitors

PENGELOLA SITUS

Foto saya
Waikewak (kampung halamanku), Larantuka, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Assalamualaikum. Saya hanyalah orang bodoh yang mau belajar dan beramal sesuai dengan AsSunnah. Daerah Asalku: Flores Timur (NTT) Indonesia. TTL: Waikewak (kampung halamanku) 15/03/1982. Pendidikan Dasar/Lanjutan. MIS :(Madrasa Ibtidai'iyyah Swasta) Waikewak - NTT - Indonesia. MTS/N : (Waiwerang - NTT - Indonesia. SMA/SMK : YP PGRI Makassar/ujung pandang. Tamat pendidikan tahun 2000-2001. Adapun blog/situs yang saya kelola sa'at ini adalah sebuah situs utama yang saya kelola melalui Hanphone (HP) Nokia 5230, dan Insya Alloh melalui situs ini kalau tidak ada halangan saya akan terus update Album-album dalam bentuk mp3, sekiranya layanan ini kurang memuaskan dihati para ikhwan dan akhwat sekalian diharapkan untuk tetap bersabar hehe.. , Akhir kata selamat untuk menikmati.

  © Download mp3 GEMMA SHOLAWAT DAN QOSIDAH by Gusari Sapoetra Noermandiri Bethan Al Waikewaki 2009

Back to TOP